Tuesday, January 23, 2007

Seorang teman bercerita dan biarlah saya kekal berbaik sangka

Seorang teman mula bercerita, "Si polan bin polan yang cakap nampak dia di tempat orang ramai, siap pegang tangan dengan pakwe dia lagi."

"Betul Man, takkan si polan bin polan tu tipu."

"Iskh, tak percayalah aku, betul ke ni?" Saya memang tersangat tidak percaya.

"Betul Man, si polan bin polan yang cakap, takkan dia tipu."

Saya masih tak percaya, "Aiiiiii, tak percayalah aku, selagi aku tak tengok dengan mata kepala aku sendiri."

Teman itu tetap menegaskan juga, "Manusia zaman sekarang Man."

"Aiiiiii, aku masih tak percaya ni."

"Perempuan Man."

"Aku kenal sangat dengan dia tu, aku tahu perangainya, hati budinya dan keteguhan prinsip serta pegangan agamanya." Saya memang masih tidak percaya.

"Tak percayalah aku, entah-entah salah pandang kot, nampak macam pegang tangan, tapi tak kot."

"Depan orang ramai Man, dia siap pegang tangan pakwe dia." Teman itu menegaskan juga.

"Iskh, aku tak percayalah orang yang berpakaian seIslamik dia buat macam tu, dia tak macam tu, aku kenal sangat dengan dia." Saya memang sangat tidak percaya, kalau saya tak tengok dengan mata kepala saya sendiri.

Teman itu berkeras juga, "Pakaian dia pun bukannya Islamik sangat, biasa aje kan. Ala Man, manusia zaman sekarang."

Saya pun berkeras juga, "Tapi, kalau betul, hilanglah kepercayaan aku selama ini pada dia yang kukenal sangat Islamik - dari cakap dan tutur katanya sampailah kepada pakaiannya dan juga tingkah lakunya." Kalau betul apa yang diceritakan teman saya itu, maka tak gunalah tudung cantiknya itu dan budi bahasanya yang lemah lembut itu, kalau benar dia berpegang tangan dengan lelaki bukan muhrimnya. Itu di depan orang, kalau di belakang orang?

Tapi, bagi saya sendiri, saya takkan terima satu-satu cerita itu tanpa bukti dan fakta yang kukuh. Selagi saya tak tengok dengan mata kepala saya sendiri, saya tetap berpendirian untuk tidak percaya. Sebagai teman juga kepada si dia, lebih elok dan lebih adil untuk saya kekal berbaik sangka kepada si dia yang kononnya berpegang tangan dengan pakwenya di khalayak ramai. Barangkali si polan bin polan hanya tersalah pandang. Barangkali.



Salman Sulaiman
Teratak Seni, Machang.
10.47 pagi, 23 Januari 2007
Selasa, 4 Muharam 1428 H.

3 comments:

lidah penghunus said...

assalamualaikum. jemputlah ke http://www.lindunganbulan.blogspot.com/ http://www.karyamuslim.blogspot.com/ dan http://www.dppkkj.blogspot.com/

NASRIAH ABDUL SALAM said...

salam, bagus cara saudara menangani cerita. ini yang dianjurkan supaya kita siasat dahulu otang yang membawa cerita sebagaimana terkandung dalam surah al-Hujrat. jika itu firasat saudara, boleh jadi lelaki yang dimaksudkan dalam cerita itu saudara kandungnya sendiri.
(wallahu 'alam)

Salman Sulaiman said...

Lidah Penghunus,

Saya telah berkunjung ke sana, laman-laman yang juga istimewa. Teruskan menulis Saudara Lidah Penghunus. Terima kasih.

Nasriah Abdul Salam,

Boleh jadi juga, lelaki itu adalah saudara kandungnya. Benar, Allah saja Yang Maha Mengetahui. Kita serahkan saja kepada-Nya. Terima kasih.


Salman Sulaiman
Teratak Seni, Machang.
10.37 pagi, 3 Mac 2007.
Sabtu yang ada waktunya syahdu.